Manusia Tanggung Jawab, Harapan dan Kenyataan

Tulisan ini membahas tentang manusia tanggung jawab, harapan dan kenyataan. Anda pasti sudah tidak asing lagi dengan kata-kata tersebut bukan? Okay kalau begitu, mari kita bahas satu persatu..

    1. Manusia dan Tanggung Jawab

      Tanggung Jawab, tanggung jawab memiliki definisi sebagai sebuah kesadaran manusia akan tingkah laku atau perbuatannya yang disengaja maupun yang tidak disengaja. Tanggung jawab juga berarti berbuat sebagai perwujudan kesadaran akan kewajibannya.Tanggung jawab dapat berupa tanggung jawab kepada diri sendiri, kepada Tuhan, kepada tanah air, kepada orangtua, keluarga, masyarakat, dosen, guru, teman, dan lainnya. Tergantung dengan situasi, kondisi dan kebutuhan masing-masing pribadi. Namun secara umum tanggung jawab terdiri dari :

      Tanggung jawab terhadap Tuhan
      Tuhan menciptakan manusia di bumi ini bukanlah tanpa tanggung jawab, melainkan untuk mengisi kehidupannya manusia mempunyai tanggung jawab langsang terhadap Tuhan. Sehingga tindakan manusia tidak bisa lepas dari hukuman-hukuman Tuhan yang
      dituangkan dalam berbagai kitab suci melalui berbagai macam agama.

      Tanggung jawab terhadap diri sendiri
      Tanggungjawab terhadap diri sendiri menuntut kesadaran setiap orang untuk memenuhi kewajibannya sendiri dalam mengembangkan kepribadian sebagai manusia pribadi. Dengan demikian bisa memecahkan masalah-masalah kemanusiaan mengenai dirinya sendiri.

      Tanggung jawab terhadap Bangsa dan Negara
      Dalam berpikir, berbuat, bertindak, bertingkah laku manusia terikat oleh norma-norma atau ukuran-ukuran yang dibuat oleh negara. Manusia tidak dapat berbuat semaunya sendiri. Bila perbuatan manusia itu salah, maka ia harus bertanggung jawab kepada negara.

      Tanggung jawab terhadap Masyarakat
      Pada hakekatnya manusia tidak bisa hidup tanpa bantuan manusia lain, sesuai dengan
      kedudukannya sebagai makhluk sosial. Sehingga dengan demikian manusia disini merupakan anggota masyarakat yang tentunya mempunyai tanggung jawab seperti anggota masyarakat yang lain agar dapat melangsungkan hidupnya dalam masyarakat tersebut.

      Tanggung jawab terhadap Keluarga
      Tiap anggota keluarga wajib bertanggungjawab kepada keluarganya. Tanggungjawab ini menyangkut nama baik keluarga. Tetapi tanggungjawab ini juga merupakan kesejahteraan, keselamatan, pendidikan, dan kehidupan.

    2. Manusia dan HarapanHarapan

      berasal dari kata harap yang berarti keinginan supaya sesuatu terjadi. Arti harapan adalah sesuatu yang diinginkan dapat terjadi dengan demikian harapan itu menyangkut masa depan.Persamaan Harapan Dan Cita-Cita
      Keduanya menyangkut masa depan karena belum terwujud. Pada umumnya dengan cita-cita maupun harapan orang menginginkan hal yang lebih baik atau meningkat.

      Sebab Manusia Memiliki Harapan
      >> Kodrat

      Kodrat ialah sifat atau keadaan atau pembawaan alamiah yang sudah terjelma dalam diri manusia sejak manusia diciptakan Tuhan. Misalnya: menangis, bergembira, berpikir, berjalan, berkata, mempunyai keturunan dan sebagainya.

      >> Kebutuhan Hidup
      Kebutuhan jasmani adalah kebutuhan yang kita butuhkan dalam keseharian kita. Misalnya: makan, minum, pakaian, rumah dan lain-lain.
      Kebutuhan Rohani adalah kebutuhan batin manusia yang hanya dapat dipenuhi. Misalnya agama, ketenangan jiwa.

    3. Manusia dan Kenyataan 

      Kehidupan adalah suatu hal yang sangat kompleks. Kehidupan juga merupakan salah satu indikasi adanya sesuatu yang hidup,bergerak, beregenerasi, mengeluarkan kotoran, dan membutuhkan makanan dan minuman. Sisi yang paling jarang dipikirkan dari kehidupan adalah kenyataan tentang kehidupan. Apakah itu kehidupan? Apakah ini semua adalah kenyataan?

      Kenyataan adalah Ide

      Ada dua teori tentang kenyataan. Pertama, segala yang ada dalam kehidupan bukanlah kenyataan, kenyataan sesungguhnya ada pada ide dan sesuatu yang terlihat dalam kehidupan adalah bayangan dari ide. Teori tentang kenyataan ini dikeluarkan pertama kali oleh filsuf Yunani kuno yaitu Plato (427-347 SM). Menurut Plato, segala benda inderawi dalam kehidupan memiliki perubahan oleh karena itu maka tidak dapat disebut sebagai yang hakiki. Sesuatu yang hakiki hanya bisa ditangkap apabila sesuatu itu tidak mengalami perubahan. Dengan kata lain, sesuatu yang hakiki adalah sesuatu yang selalu tetap.

      Plato memiliki pendapat bahwa semua yang berubah bersifat subjektif, sedangkan yang tetap bersifat objektif. Manusia sebagai makhluk hidup hanya bisa mengubah hal yang bersifat subjektif. Subjektif di sini artinya bisa dicampuri oleh manusia. Lalu hal apa saja yang bisa dicampuri oleh manusia? Umpamanya ada korek api dan ada kayu kering maka manusia bisa saja mengubahnya menjadi bara api atau sampah. Bagaimana dengan hal yang objektif? Objektif ada dalam ide yaitu berbentuk konsep. Manusia tentu mengenal apa itu “yang baik” dan tidak akan bisa mengubah “yang baik” menjadi “yang jahat”. Kalau konsep “yang baik” bisa diubah menjadi “yang jahat” maka apa artinya “yang baik” atau “yang jahat”? Tidak ada perbedaan antara keduanya kan? Oleh sebab itu, bagaimanapun juga, manusia telah mengetahui konsep “baik” dan “jahat” secara mutlak dan tak terubahkan.

      Satu ide mengandung hanya satu ide, tidak bisa satu ide mengandung dua atau lebih ide. Logikanya, jika ide “manusia” dicampur dengan ide “binatang” maka akan ada namanya ide “manusia binatang”. Jika dibayangkan, bagaimana kira-kira konsep “manusia binatang”? Mana yang harus didahulukan konsep manusia atau binatang terlebih dahulu? Subjektif dan merepotkan bukan? Dengan kata lain, di sini Plato hendak mengatakan bahwa satu ya satu, dua ya dua, dan tidak akan pernah satu sama dengan dua. Ide selalu ada, ia tidak akan pernah hancur oleh karena itu satu-satunya yang nyata dan dapat dipertanggungjawabkan adalah ide.

      Kenyataan adalah Benda Konkrit

      Teori tentang kenyataan yang kedua ini berlawanan dengan teori yang mengatakan bahwa kenyataan adalah ide. Teori yang kedua ini memiliki isi bahwa kenyataan terdapat dalam benda konkrit yang bisa dilihat dalam kehidupan. Benda konkrit sangat dekat dalam kehidupan sehari-hari seperti meja, kursi, pintu, kipas angin, jam tangan, kertas, air, tembok, batu, sepatu, dan lain-lain. Secara logis dapat diterima bahwa benda yang telah disebutkan tadi dapat dilihat, disentuh, dan dirasakan. Dengan kata lain, benda konkrit termasuk sesuatu yang dapat diinderai.

      Teori yang kedua ini menekankan pada kenyataan adanya hakikat pada suatu benda. Jika pada teori pertama hakikat berada bukan di dalam suatu benda melainkan ide, maka yang teori yang kedua ini melekatkan hakikat pada mediumnya (benda). Hakikat ada pada benda itu sendiri merupakan teori yang telah dikemukakan oleh Aristoteles (384-322 SM). Teori ini merupakan tanggapan langsung terhadap teori Plato tentang kenyataan.

      Argumentasi yang dipakai Aristoteles adalah mengikatkan teorinya dengan konsep materi dan bentuk, sehingga jelaslah dari mana asal muasal suatu benda. Misalnya, ada pagar yang terbuat dari besi, di sini yang dapat disebut sebagai materi adalah besi dan bentuk adalah pagar. Menurut Aristoteles materi dan bentuk merupakan dua hal yang saling berkaitan, sehingga keduanya harus melengkapi satu sama lain. Tidak bisa materi tanpa bentuk atau bentuk tanpa materi. Nah, gabungan dari materi besi dan bentuk pagarlah yang menyebabkan adanya benda yang dapat dikenali sebagai pagar besi. Tidak hanya pagar, besi bisa dibentuk sesuai dengan yang diinginkan misalnya wajan, badan lokomotif, mesin, dan lain-lain. Dengan ini, sesungguhnya hakikat kenyataan bisa dimulai dan diketahui dari benda-benda yang ada di dunia ini.

 

Referensi :

Anonim. Ebook IBD 9 Manusia dan Tanggung Jawab. newarr.weebly.com. Diakses 23 Juli 2016.
Anonim. Ebook IBD 11 Manusia dan Harapan. newarr.weebly.com. Diakses 23 Juli 2016.
aprillins. Dua Pandangan Filosofis Tentang Kenyataan. aprillins.com. Diakses 23 Juli 2016.

Manusia dan Pandangan Hidup

Hallo semuaa, sudah lama saya tidak menengok blog ini. Pada kesempatan ini saya akan menulis tentang manusia dan pandangan hidup. Setiap manusia pasti memiliki pandangan hidup. Pandangan hidup setiap manusia berbeda-beda, sesuai dengan apa yang mereka yakini dan mereka percayai. Pandangan hidup secara umum dapat diartikan sebagai pendapat atau pertimbangan yang dijadikan pegangan, pedoman, arahan, petunjuk hidup di dunia berdasarkan pengalaman sejarah menurut waktu dan tempat hidupnya.

Pandangan Hidup dapat berasal dari sebuah Agama, Ideologi maupun sebuah Renungan. Pandangan hidup yang berasal dari Agama, yaitu pandangan hidup yang mutlak kebenarannya. Pandangan hidup yang berupa Ideologi, yang disesuaikan dengan kebudayaan dan norma yang terdapat pada negara tersebut. Pandangan hidup hasil Renungan, yaitu pandangan hidup yang relatif kebenarannya.

Unsur-unsur pandangan hidup dapat berupa cita-cita, kebajikan, usaha dan keyakinan atau kepercayaan. Cita-cita yaitu sesuatu diinginkan yang mungkin dapat dicapai dengan usaha atau perjuangan. Kebajikan segala hal yang baik yang membuat manusia makmur, bahagia, damai dan tenteram. Usaha atau perjuangan adalah kerja keras yang dilandasi keyakinan. Keyakinan atau kepercayaan, merupakan hal terpenting dalam hidup manusia.

Tips memiliki pandangan hidup yang baik :

  1. Mengenal,kodrat manusia sebagai tahap pertama berpandangan hidup.
  2. Mengerti,yakni mengerti tentang pandangan hidup.
  3. Menghayati, menghayati akan nilai-nilai dalam pandangan hidup
  4. Meyakini,hal yang cenderung memperoleh kepastian.
  5. Mengabdi, hal yang penting akan menghayati dan meyakini hal-hal yang diterimanya
  6. Mengamankan,langkah terberat yang membutuhkan imanyang teguh dan juga kebenaran.

 

Referensi :

Anonim. Ebook IBD 8 Manusia dan Pandangan Hidup. newarr.weebly.com. Diakses 23 Juli 2016.

Manusia dan Kesustraan

Manusia dan Kesustraan
Ilmu budaya dasar atau bahasa luarnya di sebut basic humanities. Kata humanities awalnya berasal dari negara inggris yang berarti dalam bahasa indonesia adalah sastra. kata humanities berasal dari bahasa latin yang artinya adalah berbudaya dan halus. Sastra dalam arti khususnya itu biasa kita gunakan dalam kebudayaan adalah ekspresi dan isi hati dari perasaan manusia yang diungkapkan dalam bentuk pandangan cerdas yang dituangkan dalam bentuk sesuatu hal yang mencerminkan sebuah keindahan, Secara morfologis, kesusastraan dibentuk dari dua kata, yaitu su dan sastra dengan mendapat imbuhan ke- dan -an. Kata su berarti baik atau bagus, sastra berarti tulisan. Secara harfiah, kesusastraan dapat diartikan sebagai tulisan yang baik atau bagus, baik dari segi bahasa, bentuk, maupun isinya.

Pengertian Sastra Dan Seni Dalam Pengertian Umum
Sastra (Sanskerta: shastra) merupakan kata serapan dari bahasa Sanskerta ‘Sastra’, yang berarti “teks yang mengandung instruksi” atau “pedoman”, dari kata dasar ‘Sas’ yang berarti “instruksi” atau “ajaran” dan ‘Tra’ yang berarti “alat” atau “sarana”. Dalam bahasa Indonesia kata ini biasa digunakan untuk merujuk kepada “kesusastraan” atau sebuah jenis tulisan yang memiliki arti atau keindahan tertentu. Yang agak biasa adalah pemakaian istilah sastra dan sastrawi. Segmentasi sastra lebih mengacu sesuai defenisinya sebagai sekedar teks. Sedang sastrawi lebih mengarah pada sastra yang kental nuansa puitis atau abstraknya. Istilah sastrawan adalah salah satu contohnya, diartikan sebagai orang yang menggeluti sastrawi, bukan sastra.

Sastra meliputi segala bentuk dan macam tulisan yang ditulis oleh manusia, seperti catatan ilmu pengetahuan, kitab-kitab suci, surat-surat, undang-undang, dan sebagainya yang dalam arti khusus dapat kita gunakan dalam konteks kebudayaan, adalah ekspresi gagasan dan perasaan manusia. Jadi, sastra adalah hasil budaya dapat diartikan sebagai bentuk upaya manusia untuk mengungkapkan gagasannya melalui bahasa yang lahir dari perasaan dan pemikirannya. Selain itu dalam arti kesusastraan, sastra bisa dibagi menjadi sastra tertulis atau sastra lisan (sastra oral). Di sini sastra tidak banyak berhubungan dengan tulisan, tetapi dengan bahasa yang dijadikan wahana untuk mengekspresikan pengalaman atau pemikiran tertentu.

Manusia beragam melahirkan hubungan sastra dan agama. Manusia beraksi menumbuhkan ekspresi perlawanan. Manusia berbangsa mengembangkan rasa kebangsaan melalui sastra. Manusia berekonomi menggambarkan keterkaitan ekonomi dan sastra. Manusia berprofesi buruh menumbuhkan pikiran dan rasa keburuhan dalam
sastra. Manusia penghuni pesantren melahirkan sastra pesantren. Manusia sebagai antropolis bergandengtangan dengan sastra dalam memahami kehidupan manusia. Manusia multikultural tergambar dalam kehidupan dunia sastra multikultural. Manusia berkonflik budaya dan sastra wadah menuju kedewasaan kehidupannya. Manusia bersastra gambaran kehidupan sosial budayanya.Karya sastra berisi kehidupan manusia, yaitu pengalaman hidupnya. Jika pun meninggal dunia, pengalamannya abadi dalam karyanya. Terekam dalam kalimat-kalimat yang bercermin pemikiran, perasaan, dan harapan yang dapat dibaca manusia lain. Manusia selalu bereksperimen dalam hidupnya. Lalu masuk dalam dunia sastra eksperimen satu ke eksperimen lain membuat karya warna baru.

Sastra harus dibina, kalau tak bisa “binasakan” pembinanya karena tak betanggung jawab. Ingat hal ini penting sebagai wujud kelanjutan bersastra Indonesia. Masih banyak lagi hubungan sastra dan manusia.

Referensi : Nugroho, Widyo dan Muchji, Achamad. 1993. Ilmu Budaya Dasar. Jakarta: Univesitas Gunadarma.
Purba, Antilan. 2009. Sastra dan Manusia. Medan : Universitas Sumatera Utara.

Manusia dalam Cinta Kasih, Keindahan dan Kesusatraan

Manusia dan Cinta Kasih
Cinta adalah paduan rasa simpati antara dua makhluk, yang tidak hanya terbatas antara wanita dengan pria. Cinta juga bisa diibaratkan sebagai seni sebagaimana halnya bentuk seni lainnya, maka diperlukan pengetahuan dan latihan untuk menggapainya. Cinta tidak lebih dari sekedar perasaan menyenangkan, maka untuk mengalaminya harus terjatuh ke dalamnya. Hal tersebut didasarkan oleh berbagai pendapat berikut: Pertama, orang melihat cinta pertama-tama sebagai masalah dicintai dan bukan masalah mencintai. Hal ini akan mendorong manusia untuk selalu mempermasalahkan bagaimana supaya dicintai, atau supaya menarik orang lain. Kedua, orang memandang masalah cinta adalah masalah objek, bukan masalah bakat. Hal ini mendorong manusia untuk berpikir bahwa mencintai orang lain itu adalah soal sederhana, yang sulit justru mencari objek yang tepat untuk mencintai atau dicintai. Ketiga, cinta tidak perlu dipelajari. Di dalamnya ada pencampur-adukkan antara pengalaman mulai pertama jatuh cinta dan keadaan tetap berada dalam cinta.

Secara longgar, kasih sayang dapat diartikan sebagai perasaan sayang, perasaan cinta, atau perasaan suka kepada seseorang. Dalam kasih sayang paling tidak dituntut adanya dua pihak yang terlibat di dalamnya, yaitu orang yang mencurahkan perasaan sayang, cinta atau suka, dan seseorang yang memperoleh curahan kasih sayang atau cinta. Dalam pengalaman hidup sehari-hari, kehidupan seseorang akan memiliki arti jika mendapatkan perhatian dari orang lain. Jika demikian, perhatian merupakan salah satu unsur dasar dari cinta kasih.

Pengertian kasih sayang menurut Purwadarminta adalah perasaan sayang, perasaan cinta, atau perasaan suka kepada seseorang. Dalam kehidupan berumah tangga kasih sayang merupakan kunci kebahagiaan. Kasih sayang merupakan pertumbuhan dari cinta, yang unsur-unsurnya meliputi: tanggung jawab, pengorbanan, kejujuran, saling percaya, saling pengertian, saling terbuka. Kasih sayang dapat dirasakan bukan hanya oleh suami-istri, anak-anak yang telah dewasa, namun siapa pun berhak mengalaminya.

Berbagai bentuk ilustrasi kasih sayang juga diungkap dalam karya sastra, misalnya: Novel Anisah karya Yati Maryati Miharja mengisahkan orang tua yang malu dengan kelahiran anaknya, kemudian bayinya dibuang atau diserahkan kepada orang lain (hal ini merupakan bentuk pelanggaran tehadap nilai kehidupan, nilai cinta, dan norma kemesraan); Novel Ibu Kita, Raminten karya Muhammad Ali mengisahkan seorang ibu yang menyerahkan anak-anaknya kepada orang lain karena terdesak oleh faktor ekonomi; Anakku karya J.E. Tatengkeng bercerita tentang kasih sayang seorang ayah terhadap anaknya yang telah mati; Novel Salah Asuhan karya Abdul Muis tentang kasih sayang yang berlebihan, sehingga anaknya jadi sombong, pemboros, tidak saleh, dan tidak menghormati orang tua. Bertolak dari kasus hubungan kasih sayang antara orang tua dan anak dapat diilustrasikan dalam bagan berikut.

Sebelum memberikan kasih sayangnya kepada orang lain, sudah barang tentu orang tersebut terlebih dahulu harus bisa memberikan kasih sayangnya pada diri sendiri secara wajar. Dengan cinta maka kehidupan ini ada. Manusia berbuat atau melakukan sesuatu karena dorongan perasaan cinta. Bukan hanya manusia, binatang pun sesungguhnya berbuat sesuatu karena dorongan perasaan cinta. Bedanya manusia dalam berbuat sesuatu atas kesadaran akal, sedangkan binatang berbuat karena nalurinya.
Dalam diri manusia terdapat dua hal yang dapat menggerakkan perilaku, yaitu akal-budi dan nafsu. Perasaan cinta dapat dipengaruhi oleh dua sumber tersebut, yaitu perasaan cinta yang digerakkan oleh akal dan budi, serta perasaan cinta yang digerakkan oleh nafsu. Cinta pertama disebut tanpa pamrih atau cinta sejati, sedangkan yang kedua cinta nafsu atau cinta pamrih. Cinta tanpa pamrih adalah cinta kebaikan hati, sedangkan cinta pamrih atau cinta nafsu disebut cinta utilitaris atau yang bermanfaat, artinya mengindahkan kepentingan diri sendiri. Pengorbanan adalah suatu kebahagiaan, ketidakmampuan membahagiakan atau meringankan beban yang dicintai atau yang dikasihi adalah suatu penderitaan.
Manusia dan Keindahan
Keindahan dari kata indah, artinya bagus, permai, cantik, elok, molek, dan sebagainya. Benda yang mempunyai sifat indah ialah segala hasil seni (meskipun tidak semuanya), pemandangan alam (pantai, pegunungan, danau, bunga-bunga di lereng pegunungan), manusia (wajah, mata, bibir, hidung, rambut, kaki, tubuh), rumah (halaman, tatanan perabot rumah tangga, dan sebagainya), suara, warna dan seterusnya. Kawasan keindahan manusia sangat luas, seluas keanekaragaman manusia dan sesuai dengan perkembangan peradaban teknologi, sosial dan budaya. Keindahan merupakan bagian kehidupan manusia yang tidak dapat dipisahkan di mana pun, kapan pun dan oleh siapa pun.
Keindahan adalah identik dengan kebenaran. Keduanya mempunyai nilai sama yaitu abadi, dan mempunyai daya tarik yang selalu bertambah. Yang tidak mengandung kebenaran berarti tidak indah, karenanya tiruan lukisan Monalisa bisa jadi tidak indah karena dasarnya tidak benar. Keindahan juga bersifat universal, artinya tidak terikat oleh selera perorangan, waktu dan tempat, selera mode, kedaerahan atau lokal.
Pandangan Plato tentang keindahan dapat dibagi jadi dua, yaitu: tentang dunia idea dan tentang dunia nyata. Menurut Plato, kesederhanaan adalah ciri khas keindahan, baik dalam alam maupun dalam karya seni. Pandangan yang kedua adalah punya keistimewaan, karena tidak melepaskan diri dari pengalaman indrawi yang merupakan unsur konstruktif dari pengalaman estetis dan keindahan dalam pengertian sehari-hari.
Dalam hal ini Plato amat menghargai dan menekankan pengetahuan murni (episteme) yang mengungguli segala pengetahuan semu (doxa). Dalam hal keindahan, Plato amat menekankan arti suatu idea (eidos), dan yang lain dari idea itu hanyalah berhala-berhala (eidola, dalam bahasa Inggris: idols) saja. Berkenaan dengan keindahan ini terdapat tiga pandangan yang dapat diacu: Pertama, keindahan berdasarkan keseimbangan, keteraturan, ukuran dan sebagainya. Pandangan ini berasal dari Pythagoras, Plato, dan Thomas. Kedua, keindahan merupakan jalan menuju kontemplasi. Pandangan ini nampak dalam pikiran Plato, Plotinos, Agustinus. Keindahan itu sendiri pertama-tama dianggap berada di luar dan lepas dari subjek, yang biasanya dengan penekanan bahwa keindahan itu ada di “seberang”. Ketiga, perhatian akan apa yang secara empiris terjadi dalam diri subjek termuat dalam pandangan Aristoteles dan Thomas. Keduanya menyajikan penyelidikan
terhadap pengalaman manusia secara aposteriori-empiris (Sutrisno & Verhaak, 1994:25-34).
Berbicara tentang keindahan mau tidak mau memang harus menengok ke jaman Yunani Kuno pada abad ke-18. Menurut The Liang Gie, dalam bukunya Garis Besar Esietik diterangkan bahwa istilah keindahan dalam bahasa Inggris dapat diterjemahkan menjadi beautiful, Perancis beau, Italia dan Spanyol hello. Kata-kata tersebut berasal dari bahasa Latin helium. Akar kata dari istilah tersebut adalah bonum yang berarti kebaikan, lalu mempunyai bentuk pengecilan menjadi bonellum dan akhirnya dipendekkan ditulis helium. Dalam bahasa Inggris untuk membedakan antara sesuatu yang berkualitas abstrak dengan sebuah benda tertentu yang indah sering digunakan istilah beauty (keindahan) dan the beautiful (benda atau hal yang indah). Dalam pembahasan filsafat, kedua hal tersebut sering dicampuradukkan. Di sisi lain, pengertian keindahan juga sering dijabarkan dalam pengertian: 1) keindahan dalam arti luas; 2) keindahan dalam arti estetik murni; 3) keindahan dalam arti terbatas dalam hubungannya dengan penglihatan.
Orang Yunani di samping berbicara tentang buah pikiran yang indah dan adat kebiasaan yang indah, juga mengenal keindahan dalam arti estetik (symmetria), yaitu suatu keindahan berdasarkan penglihatan (seperti seni pahat, arsitektur) dan harmonia yaitu keindahan berdasarkan pendengaran (musik). Bertolak dari anggapan-anggapan tersebut maka keindahan dalam arti luas dapat diklasifikasikan menjadi: keindahan seni, keindahan alam, keindahan moral, dan keindahan intelektual. Adapun keindahan dalam arti estetik murni menyangkut pengalaman estetik seseorang dalam hubungannya dengan segala sesuatu yang diserapnya. Sedangkan, keindahan dalam arti yang terbatas mempunyai arti yang lebih sempit lagi, sehingga hanya menyangkut benda-benda yang dapat diserap dengan penglihatan, yakni keindahan bentuk dan warna.
Bertolak dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa keindahan adalah sejumlah kualita pokok tertentu yang terdapat pada suatu hal. Kualita adalah kesatuan (unity), keseimbangan (balance), dan kebalikan (contrast). Dengan begitu, keindahan itu tersusun dari berbagai keselarasan dan kebalikan dan garis, warna, bentuk, nada, dan kata-kata. Ada pula yang berpendapat, keindahan itu suatu kumpulan dari hubungan-hubungan yang selaras dalam suatu benda dan diantara benda itu dengan si pengamat. Dengan kata lain, ciri-ciri keindahan menyangkut kualitas hakiki dari segala benda yang mengandung kesatuan (unity), keseimbangan (balance), keselarasan (harmoni), kesimetrisan (symetry), dan pertentangan (contrast). Yang berarti pula bahwa keindahan itu tersusun dari keselarasan dan pertentangan dari garis, warna, bentuk, nada, dan kata-kata.
Dewasa ini filsuf seni merumuskan keindahan sebagai kesatuan hubungan yang terdapat antara penerapan-penerapan indrawi (beauty is unity of formal realitions of our sense perceptions). Adapun filsuf lain menghubungkan pengertian keindahan dengan ide kesenangan (pleasure), yaitu sesuatu yang menyenangkan bagi penglihatan atau pendengaran. Filsuf abad pertengahan, Thomas Aquinos (1225-1274) mengatakan, keindahan adalah sesuatu yang menyenangkan bilamana dilihat (id qoud visum placet). Dalam estetika modern orang lebih suka berbicara tentang seni dan estetika, karena merupakan gejala konkret yang dapat ditelaah dengan pengalaman secara empirik dan penguraian sistematik. Deitgan demikian, pengalaman estetika dan seni tidak lagi sekedar pengalaman abstrak.

referensi : Anonim. Bab I PENGANTAR ILMU SOSIAL DAN BUDAYA DASAR. pdf (lpidb.ums.ac.id/wp-content/uploads/2013/09/ISBD-BAB-1-8-FIX.pdf). Diakses tanggal 15 April 2016.

 

Ilmu Budaya Dasar

Ilmu Budaya Dasar

  1. Pengertian

Budaya adalah bentuk jamak dari kata budi dan daya yang berarti cinta, karsa dan rasa. Kata budaya sebenarnya berasal dari bahasa Sanskerta budhayah yaitu bentuk jamak kata buddhi yang berarti budi atau akal.kemudian pengertian ini berkembang dalam arti culture, yaitu sebagai segala daya dan aktivitas manusia untuk mengolah dan mengubah alam.

 

  1. Tujuan
  2. Memberikan pengetahuan dan wawasan tentang keragaman, kesetaraan dan martabat manusia sebagai individu dan mahluk sosial dalam kehidupan masyarakat
  3. Memberikan dasar-dasar nilai estetika, etika, moral, hukum dan budaya sebagai landasan untuk menghormati dan menghargai antara sesame manusia sehingga akan terwujud masyarakat yang tertib, teratur dan sejahtera
  4. Memberikan dasar-dasar untuk memahami masalah sosial dan budaya serta mampu bersikap keritis, analitis, dan responsive untuk memecahkan masalah tersebut secara arif di masyarakat

Tetapi jika dikaji secara historis, studi sosial, dan studi kebudayaan memiliki tujuan yang beragam,

yaitu :

  1. Mendidik mahasiswa menjadi ahli dibidang ilmu
  2. Tujuannya menumbuhkan Warga Negara yang baik
  3. Kompromi antara pendapat pertama dan kedua

 

  1. Pengaruh Budaya terhadap Lingkungan dan Contohnya

Beberapa variabel yang berhubungan dengan masalah kebudayaan dan lingkungannya:

  • Physcial Environment, menunjuk pada lingkungannya natural seperti : temperatur, curah hujan, iklim, wilayah geografis, flora, dan fauna. Contohnya adalah jika di wilayah Pulau Jawa, ada sebuah budaya yang dinamakan unggah-ungguh yaitu sikap seseorang kepada masyarakat lainnya di linkungan tersebut, seperti menghormati yang lebih tua dengan berbicara sopan menggunakan bahasa kromo, makan sambil duduk, dll.
  • Cultural Social Environment, meliputi aspek – aspek kebudayaan beserta proses sosialisasi seperti : norma – norma, adat istiadat, dan nilai – nilai. Contoh nyata yang sering terjadi saat ini seperti pergaulan bebas sebelum menikah, berpacaran diluar batas, dan masih banyak lagi.
  • Environmental Orientation and Representation, mengacu pada persepsi dan kepercayaan kognitif yang berbeda – beda pada setiap masyarakat mengenai lingkungannya. Misal di lingkungan tertentu memiliki kepercayaan bahwa setiap akan menikah atau memiliki acara, seseorang harus bersedekah bumi, menaruh sesajen di tempat yang dianggap keramat, dll.
  • Environmental Behavior and Procces, meliputi bagaimana masyarakat menggunakan lingkungannya dalam hubungan social. Misal di lingkungan kerja, hubungan social yang terjadi diantara mereka biasanya antar sesama staff mereka menggunakan bahasa informal tetapi sopan, namun jika dengan atasan mereka menggunakan bahasa formal.
  • Out Carries Product, meliputi hasil tidakan manusia seperti membangun rumah, komunitas, kota beserta usaha – usaha manusia dalam memodifikasi lingkungannya fisik seperti budaya pertanian dan iklim. Contoh dibidang pertanian, misal para petani terdahulu biasa menggunakan pupuk berbahan kimia sebagai penyubur tanaman, maka petani sekarang lebih menggunakan pupuk organik karena dinilai lebih aman.

 

  1. Hakikat Manusia
  • Manusia sebagai Pencipta dan Pengguna Kebudayaan

Tahap eksternalisasi adalah proses pencurahan diri manusia secara terus – menerus ke dalam dunia melalaui aktivitas fisik dan mental, sehingga kebudayaan memiliki peran sebagai :

  • Suatu hubungan pedoman antar manusia atau kelompoknya
  • Wadah untuk menyalurkan perasaan – perasaan dan kemampuan – kemampuan lain
  • Sebagai pembimbing kehidupan dan penghidupn manusia
  • Pembeda manusia dan binatang
  • Petunjuk – petunjuk tentang bagaimana manusia harus bertindak dan berprilaku di dalam pergaulan

 

  • Kebudayaan itu dapat diterima dengan tiga bentuk :
  • Melalui pengalaman hidup saat menghadapi lingkungan
  • Melalui pengalaman hidup sebagai makhluk sosial
  • Melalui komunikasi simbolis (benda, tubuh, gerak tubuh, peristiwa dan lain lagi yang tahu sejenis).

 

  • Karena tiap kebudayaan berbeda namun pada dasarnya memiliki hakikat yang sama yaitu :
    • Terwujud dan tersalurkan lewat prilaku manusia
    • Sudah ad sejak lahirny generasi dan tetap ada setelah pengganti mati
    • Diperlukan manusia yang diwujudkan lewat tingkah laku
    • Berisi aturan yang berisi kewajiban, tindakan yang diterima atau tidak, larangan dan pantangan.

 

Referensi : Modul Mata Kuliah Ilmu Sosial Budaya Dasar. Jurusan Ssitem Informasi STIKOM Binaniaga Bogor.

 

 

Liburan Akhir Tahun

Assalamu’alaikum para pengunjung blog saya…

Apa kabar di hari ketiga tahun 2016? Sehat kan?

Kali ini saya akan bercerita tentang liburan yang saya habiskan di kampung halaman.  Sebelumnya, liburan dimana Anda akhir tahun ini??🙂

Baik, langsung saja ke pokok permasalahan. ..

Saya baru saja menghabiskan waktu libur saya di kampung halaman, tepatnya di Desa Lebakgowah – Kecamatan Lebaksiu – Kabupaten Tegal – Jawa Tengah.  Saya habiskan waktu libur saya selama 3 hari, tidak banyak kegiatan yang saya lakukan karena kebetulan saya pulang juga karena ada urusan pribadi yang harus saya kerjakan selama 2 hari berturut-turut. Sampai pada hari ketiga, baru saya sempatkan ke salah satu ikon Kota Slawi – Kabupaten Tegal yang baru-baru ini menjadi salah satu destinasi wisata yaitu Masjid Agung Slawi dan Tugu Poci Slawi.

Masjid Agung Slawi berdiri sejak puluhan tahun yang lalu, tepatnya saya kurang begitu paham, yang jelas Masjid ini direnovasi waktu saya masih duduk di bangku SMK tepatnya tahun 2009 – 2012 dan pada saat saya mudik kemarin, Masjid ini sudah berdiri kokoh nan cantik dihiasi ornamen-ornamen Islami seperti Masjid Agung yang ada di wilayah lainnya.  Sayangnya, saya tidak mengabadikan foto di sana karena takut mengganggu kehidmatan para jamaah yang sedang beribadah. :-)

Sedangkan Tugu Poci Slawi baru didirikan sekitar 2-3 tahun yang lalu, tepatnya tahun berapa saya kurang paham karena pada saat saya masih SMK, tugu ini sama sekali belum muncul penampakannya dan setelah lulus dari SMK Negeri 1 Slawi tahun 2012, saya langsung menjadi mahasiswa rantau yang jarang pulang, jadi mohon maaf jika saya tidak bisa menjelaskan detil dari sejarah didirikannya Tugu Poci dan Masjid Agung.  Tetapi saya mengapresiasi sangat kepada Pemerintah Kabupaten Tegal karena terselesaikannya kedua bangunan ini (Masjid Agung dan Tugu Poci), menjadikan destinasi wisata baru bagi para pelancong yang sedang singgah di Kota Slawi – Kabupaten Tegal.

Demikian liburan kali ini, sekian dan terima kasih🙂

Selamat Tahun Baru 2016 dan SEMANGAT beraktivitas kembaliiii🙂🙂

Wassalamu’alaikum…