Manusia dalam Cinta Kasih, Keindahan dan Kesusatraan

Manusia dan Cinta Kasih
Cinta adalah paduan rasa simpati antara dua makhluk, yang tidak hanya terbatas antara wanita dengan pria. Cinta juga bisa diibaratkan sebagai seni sebagaimana halnya bentuk seni lainnya, maka diperlukan pengetahuan dan latihan untuk menggapainya. Cinta tidak lebih dari sekedar perasaan menyenangkan, maka untuk mengalaminya harus terjatuh ke dalamnya. Hal tersebut didasarkan oleh berbagai pendapat berikut: Pertama, orang melihat cinta pertama-tama sebagai masalah dicintai dan bukan masalah mencintai. Hal ini akan mendorong manusia untuk selalu mempermasalahkan bagaimana supaya dicintai, atau supaya menarik orang lain. Kedua, orang memandang masalah cinta adalah masalah objek, bukan masalah bakat. Hal ini mendorong manusia untuk berpikir bahwa mencintai orang lain itu adalah soal sederhana, yang sulit justru mencari objek yang tepat untuk mencintai atau dicintai. Ketiga, cinta tidak perlu dipelajari. Di dalamnya ada pencampur-adukkan antara pengalaman mulai pertama jatuh cinta dan keadaan tetap berada dalam cinta.

Secara longgar, kasih sayang dapat diartikan sebagai perasaan sayang, perasaan cinta, atau perasaan suka kepada seseorang. Dalam kasih sayang paling tidak dituntut adanya dua pihak yang terlibat di dalamnya, yaitu orang yang mencurahkan perasaan sayang, cinta atau suka, dan seseorang yang memperoleh curahan kasih sayang atau cinta. Dalam pengalaman hidup sehari-hari, kehidupan seseorang akan memiliki arti jika mendapatkan perhatian dari orang lain. Jika demikian, perhatian merupakan salah satu unsur dasar dari cinta kasih.

Pengertian kasih sayang menurut Purwadarminta adalah perasaan sayang, perasaan cinta, atau perasaan suka kepada seseorang. Dalam kehidupan berumah tangga kasih sayang merupakan kunci kebahagiaan. Kasih sayang merupakan pertumbuhan dari cinta, yang unsur-unsurnya meliputi: tanggung jawab, pengorbanan, kejujuran, saling percaya, saling pengertian, saling terbuka. Kasih sayang dapat dirasakan bukan hanya oleh suami-istri, anak-anak yang telah dewasa, namun siapa pun berhak mengalaminya.

Berbagai bentuk ilustrasi kasih sayang juga diungkap dalam karya sastra, misalnya: Novel Anisah karya Yati Maryati Miharja mengisahkan orang tua yang malu dengan kelahiran anaknya, kemudian bayinya dibuang atau diserahkan kepada orang lain (hal ini merupakan bentuk pelanggaran tehadap nilai kehidupan, nilai cinta, dan norma kemesraan); Novel Ibu Kita, Raminten karya Muhammad Ali mengisahkan seorang ibu yang menyerahkan anak-anaknya kepada orang lain karena terdesak oleh faktor ekonomi; Anakku karya J.E. Tatengkeng bercerita tentang kasih sayang seorang ayah terhadap anaknya yang telah mati; Novel Salah Asuhan karya Abdul Muis tentang kasih sayang yang berlebihan, sehingga anaknya jadi sombong, pemboros, tidak saleh, dan tidak menghormati orang tua. Bertolak dari kasus hubungan kasih sayang antara orang tua dan anak dapat diilustrasikan dalam bagan berikut.

Sebelum memberikan kasih sayangnya kepada orang lain, sudah barang tentu orang tersebut terlebih dahulu harus bisa memberikan kasih sayangnya pada diri sendiri secara wajar. Dengan cinta maka kehidupan ini ada. Manusia berbuat atau melakukan sesuatu karena dorongan perasaan cinta. Bukan hanya manusia, binatang pun sesungguhnya berbuat sesuatu karena dorongan perasaan cinta. Bedanya manusia dalam berbuat sesuatu atas kesadaran akal, sedangkan binatang berbuat karena nalurinya.
Dalam diri manusia terdapat dua hal yang dapat menggerakkan perilaku, yaitu akal-budi dan nafsu. Perasaan cinta dapat dipengaruhi oleh dua sumber tersebut, yaitu perasaan cinta yang digerakkan oleh akal dan budi, serta perasaan cinta yang digerakkan oleh nafsu. Cinta pertama disebut tanpa pamrih atau cinta sejati, sedangkan yang kedua cinta nafsu atau cinta pamrih. Cinta tanpa pamrih adalah cinta kebaikan hati, sedangkan cinta pamrih atau cinta nafsu disebut cinta utilitaris atau yang bermanfaat, artinya mengindahkan kepentingan diri sendiri. Pengorbanan adalah suatu kebahagiaan, ketidakmampuan membahagiakan atau meringankan beban yang dicintai atau yang dikasihi adalah suatu penderitaan.
Manusia dan Keindahan
Keindahan dari kata indah, artinya bagus, permai, cantik, elok, molek, dan sebagainya. Benda yang mempunyai sifat indah ialah segala hasil seni (meskipun tidak semuanya), pemandangan alam (pantai, pegunungan, danau, bunga-bunga di lereng pegunungan), manusia (wajah, mata, bibir, hidung, rambut, kaki, tubuh), rumah (halaman, tatanan perabot rumah tangga, dan sebagainya), suara, warna dan seterusnya. Kawasan keindahan manusia sangat luas, seluas keanekaragaman manusia dan sesuai dengan perkembangan peradaban teknologi, sosial dan budaya. Keindahan merupakan bagian kehidupan manusia yang tidak dapat dipisahkan di mana pun, kapan pun dan oleh siapa pun.
Keindahan adalah identik dengan kebenaran. Keduanya mempunyai nilai sama yaitu abadi, dan mempunyai daya tarik yang selalu bertambah. Yang tidak mengandung kebenaran berarti tidak indah, karenanya tiruan lukisan Monalisa bisa jadi tidak indah karena dasarnya tidak benar. Keindahan juga bersifat universal, artinya tidak terikat oleh selera perorangan, waktu dan tempat, selera mode, kedaerahan atau lokal.
Pandangan Plato tentang keindahan dapat dibagi jadi dua, yaitu: tentang dunia idea dan tentang dunia nyata. Menurut Plato, kesederhanaan adalah ciri khas keindahan, baik dalam alam maupun dalam karya seni. Pandangan yang kedua adalah punya keistimewaan, karena tidak melepaskan diri dari pengalaman indrawi yang merupakan unsur konstruktif dari pengalaman estetis dan keindahan dalam pengertian sehari-hari.
Dalam hal ini Plato amat menghargai dan menekankan pengetahuan murni (episteme) yang mengungguli segala pengetahuan semu (doxa). Dalam hal keindahan, Plato amat menekankan arti suatu idea (eidos), dan yang lain dari idea itu hanyalah berhala-berhala (eidola, dalam bahasa Inggris: idols) saja. Berkenaan dengan keindahan ini terdapat tiga pandangan yang dapat diacu: Pertama, keindahan berdasarkan keseimbangan, keteraturan, ukuran dan sebagainya. Pandangan ini berasal dari Pythagoras, Plato, dan Thomas. Kedua, keindahan merupakan jalan menuju kontemplasi. Pandangan ini nampak dalam pikiran Plato, Plotinos, Agustinus. Keindahan itu sendiri pertama-tama dianggap berada di luar dan lepas dari subjek, yang biasanya dengan penekanan bahwa keindahan itu ada di “seberang”. Ketiga, perhatian akan apa yang secara empiris terjadi dalam diri subjek termuat dalam pandangan Aristoteles dan Thomas. Keduanya menyajikan penyelidikan
terhadap pengalaman manusia secara aposteriori-empiris (Sutrisno & Verhaak, 1994:25-34).
Berbicara tentang keindahan mau tidak mau memang harus menengok ke jaman Yunani Kuno pada abad ke-18. Menurut The Liang Gie, dalam bukunya Garis Besar Esietik diterangkan bahwa istilah keindahan dalam bahasa Inggris dapat diterjemahkan menjadi beautiful, Perancis beau, Italia dan Spanyol hello. Kata-kata tersebut berasal dari bahasa Latin helium. Akar kata dari istilah tersebut adalah bonum yang berarti kebaikan, lalu mempunyai bentuk pengecilan menjadi bonellum dan akhirnya dipendekkan ditulis helium. Dalam bahasa Inggris untuk membedakan antara sesuatu yang berkualitas abstrak dengan sebuah benda tertentu yang indah sering digunakan istilah beauty (keindahan) dan the beautiful (benda atau hal yang indah). Dalam pembahasan filsafat, kedua hal tersebut sering dicampuradukkan. Di sisi lain, pengertian keindahan juga sering dijabarkan dalam pengertian: 1) keindahan dalam arti luas; 2) keindahan dalam arti estetik murni; 3) keindahan dalam arti terbatas dalam hubungannya dengan penglihatan.
Orang Yunani di samping berbicara tentang buah pikiran yang indah dan adat kebiasaan yang indah, juga mengenal keindahan dalam arti estetik (symmetria), yaitu suatu keindahan berdasarkan penglihatan (seperti seni pahat, arsitektur) dan harmonia yaitu keindahan berdasarkan pendengaran (musik). Bertolak dari anggapan-anggapan tersebut maka keindahan dalam arti luas dapat diklasifikasikan menjadi: keindahan seni, keindahan alam, keindahan moral, dan keindahan intelektual. Adapun keindahan dalam arti estetik murni menyangkut pengalaman estetik seseorang dalam hubungannya dengan segala sesuatu yang diserapnya. Sedangkan, keindahan dalam arti yang terbatas mempunyai arti yang lebih sempit lagi, sehingga hanya menyangkut benda-benda yang dapat diserap dengan penglihatan, yakni keindahan bentuk dan warna.
Bertolak dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa keindahan adalah sejumlah kualita pokok tertentu yang terdapat pada suatu hal. Kualita adalah kesatuan (unity), keseimbangan (balance), dan kebalikan (contrast). Dengan begitu, keindahan itu tersusun dari berbagai keselarasan dan kebalikan dan garis, warna, bentuk, nada, dan kata-kata. Ada pula yang berpendapat, keindahan itu suatu kumpulan dari hubungan-hubungan yang selaras dalam suatu benda dan diantara benda itu dengan si pengamat. Dengan kata lain, ciri-ciri keindahan menyangkut kualitas hakiki dari segala benda yang mengandung kesatuan (unity), keseimbangan (balance), keselarasan (harmoni), kesimetrisan (symetry), dan pertentangan (contrast). Yang berarti pula bahwa keindahan itu tersusun dari keselarasan dan pertentangan dari garis, warna, bentuk, nada, dan kata-kata.
Dewasa ini filsuf seni merumuskan keindahan sebagai kesatuan hubungan yang terdapat antara penerapan-penerapan indrawi (beauty is unity of formal realitions of our sense perceptions). Adapun filsuf lain menghubungkan pengertian keindahan dengan ide kesenangan (pleasure), yaitu sesuatu yang menyenangkan bagi penglihatan atau pendengaran. Filsuf abad pertengahan, Thomas Aquinos (1225-1274) mengatakan, keindahan adalah sesuatu yang menyenangkan bilamana dilihat (id qoud visum placet). Dalam estetika modern orang lebih suka berbicara tentang seni dan estetika, karena merupakan gejala konkret yang dapat ditelaah dengan pengalaman secara empirik dan penguraian sistematik. Deitgan demikian, pengalaman estetika dan seni tidak lagi sekedar pengalaman abstrak.

referensi : Anonim. Bab I PENGANTAR ILMU SOSIAL DAN BUDAYA DASAR. pdf (lpidb.ums.ac.id/wp-content/uploads/2013/09/ISBD-BAB-1-8-FIX.pdf). Diakses tanggal 15 April 2016.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s